[Taa & Titi] Gula

“Sugar glider ini tampaknya cukup populer di kalangan anak muda, ya!”

Dari dalam TV, suara Dedi Kebuzer yang membahana ulala mengusik telinga Titi yang sedang asik bermain ponsel.

Titi menoleh ke arah TV. Tampak Dedi sedang membawa makhluk berbintik-bintik. Mama Titi memerhatikan dengan seksama, sementara Titi hanya memerhatikannya sebentar.

“Hmm, menarique,” gumam Titi, lalu menunduk ke arah ponselnya lagi. “Tapi dorama Mbak Elizabeth hode jauh lebih menarique.”

Titi berpikir sebentar tentang hewan yang tadi dia lihat di TV. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya Mama Titi senang melihat-lihat hewan peliharaan di TV, majalah, dan koran, namun tak pernah sekalipun Mama Titi memelihara hewan di rumah. Pernah Titi bertanya mengapa, Mama Titi menjawab, “Kan, kita udah punya hewan di rumah! Tuh ada semut banyak, kamu perhatiin tu satu-satu!”

Titi yakin sebenarnya mamanya ingin memelihara hewan yang lebih besar, seperti harimau sumatra atau gajah sumatra. Hanya saja uangnya tak cukup.

***

Keesokan harinya, di sekolah. Titi datang menghampiri Taa yang sedang duduk melamun. Ya, Taa memang suka melamun. Sebenarnya, sekarang ini Taa bukan sedang melamun, melainkan memikirkan cara supaya bisa mengucapkan huruf vokal “I” sambil monyong.

Titi menepuk punggung Taa dua kali.

“Taa! Aku mau cerita!”

Taa terkejut. Bukan karena suara atau tepukan Titi, melainkan kaget melihat kunciran rambut Titi yang berhiaskan sundal shoes.

“Ah, iya, mengapa? Apa kamu ingin memberitahu caranya mengucapkan ‘A’ sambil monyong?”

“Bukan, bukan itu! Kemaren ada dorama…”

“Titi, apa kamu ingat yang pernah kubilang tentang ‘do-ra-ma’?” sela Taa sambil berwajah agak kesal.

“Eh… apa? Aku ga inget…” Titi menggaruk-garuk ketiaknya yang belum digosok deodoran.

“Aah, masa’ kamu lupa? Aku juga tidak ingat, sih…” Taa menggaruk-garuk kepalanya yang belum keramas seminggu.

“………”

“Tapi yang kutahu, tolong jangan bicarakan tentang sesuatu tentang itu,” tegas Taa.

Sebenarnya, maksud Taa -yang dia lupakan tadi- menggunjing itu dilarang dalam Islam. Itu sama seperti memakan bangkai saudara sendiri. Membicarakan dorama pun termasuk menggunjing. Sayangnya Taa orang yang gampang lupa.

“Ya deh…”

Sebelum Taa sempat melamun lagi, Titi memikirkan bahasan lain.

“Eh, Taa, kayaknya kalo punya…” belum sempat Titi menyelesaikan kalimatnya, dia langsung lupa.

“Punya apa?”

“Eng… punya su… sugar… sugar apa ya…”

Titi bingung. Sugar apa, ya? Padahal baru kemarin dia melihatnya di TV.

Oh, itu dia!

“Taa! Kayaknya kalo aku aku punya SUGAR DEDI itu keren deh!” kata Titi sambil berapi-api.

“APPAAAAHHH!?”

Taa tidak menyangka! Temannya yang berkuncir dua ini memang agak mesum, tapi tak pernah Taa memikirkan jika Titi menginginkan belaian pria-pria tua dengan bayaran mahal! Astaghfirullah!

“Astaghfirullah, Titi! Kamu ingin punya sugar daddy!?”

“Ya, kenapa emang? Katanya populer di kalangan anak muda,” tanya Titi seolah-olah tidak ada yang salah jika dirinya pergi kencan dengan pria 40 tahunan yang baru pulang lembur.

“Kalau kamu kekurangan uang, pinjamlah padaku!” Meskipun Taa sendiri sedang kekurangan uang, Taa takut jika dia tidak bisa menolong saudara sesama muslimnya sampai menjerumuskan ke sugar daddy.

Titi memikirkan harga hewan lucu yang populer di kalangan anak muda itu. Pastinya mahal, merawat hewan lucu namun suka menggigit dan pipis sembarangan itu.

“Benar juga, ya, dia kan mahal…” batin Titi.

“Lagipula, mempunyai itu juga hanya untuk memuaskan keinginan dunia! Lalu bagaimana dengan akhirat?”

Titi memikirkan jika dia hanya ingin memiliki hewan itu karena kelucuannya. Nanti bagaimana kalau Titi bosan, malas mengurus hewan itu. Hewan itu akan mati terabaikan.

Titi mulai merasakan panas dari dalam matanya. Tanpa sadar, sebutir air mata keluar dari pelupuk matanya.

“Huhuhu… aku tidak ingin punya sugar dedi…”

“Alhamdulillah, Titi tercerahkan…” Taa pun ikut terharu.

Mereka pun berpelukan sambil menangis.

Padahal, sejauh ini mereka membicarakan hal yang berbeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s