[Fanfic] Brotherzone itu Indah

Aku ada di sini.

Aku ada untuk menemaninya.

Sudah sejak aku ada di sini, kami selalu bersama.

Entah apa yang akan terjadi jika aku tanpanya.

Entah apa yang akan terjadi jika dia tanpaku.

Kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama, sebagai…

… Kakak beradik?

***

Brotherzone itu Indah

A Vocaloid Fanfic

Author            : Nectarinia

Genre              : Love comedy? Ya, kali. Intinya fanfic ini gak sedih-sedih amat, kok! Eh, sedih buat korban brotherzone sih iya.

Main Chara    : KAITO, MEIKO (sangat yakin kalau nama asli mereka ditulis pakai huruf kapital)

Warning         : Bahasa campuran, gagal romance, K E T I D A K P E K A A N  C E W E K (iya aku tahu cewek biasanya bilang kalau cowok itu gak peka, tapi jangan salah, ada juga lho cewek yang gak peka), B R O T H E R Z O N E, ending tidak sesuai yang diharapkan.

Summary        : Kaito galau. Secara umur rilis dia sudah 10 tahun, dan umur segitu harusnya sudah mulai ada suka-sukaan. Apesnya, dia suka ke orang yang selama ini dia anggap sebagai kakak… atau lebih tepatnya, Kaito yang dianggap sebagai adiknya.

***

Meiko. Vocaloid Jepang pertama yang ada sebelum aku. Kehadiranku sebagai partnernya membuatnya sangat senang. Dia baik sekali padaku, tapi mungkin kadang-kadang terkesan memanjakanku, sih. Dia membangunkanku tiap pagi, membuatkan sarapan, pijat badanku kalo aku lagi capek, menyanyi bareng diiringi gitar kesayangannya, menghibur aku kalau lagi sedih, membelikanku es tung-tung Pak Juned, pokoknya banyak banget deh kebaikannya. Bukan berarti dia nggak pernah jahat lho, ya. Dia juga sering ngamuk kalau kamarku nggak rapi, aku taruh baju sembarangan, atau pas aku lupa matiin TV dan lampu sebelum keluar rumah. Dan kalau marah, ya marah banget. Selain itu, kita sering bertengkar gara-gara hal kecil seperti rebutan kamar mandi karena sama-sama mules habis makan keripik Mang Eci level 100. Kadang akrab, kadang bertengkar… Pokoknya, kita seperti kakak-adik deh. Dia yang kakak, aku yang adik.

Cuma, walaupun kita memang selisih 2 tahun (Meiko bilang kalau lebih tepatnya 1 tahun 3 bulan), aku dan Meiko ini sebenarnya bukan kakak-adik sungguhan. Memang sih, aku, Meiko, Miku, Rin, Len, dan Luka adalah satu keluarga Crypton Future Media (sebenarnya aku dan Meiko dari Yamaha, tapi masih ada hubungannya sama Crypton). Kita memang keluarga. Kita memang saudara. Miku memang adikku, begitu juga dengan Rin dan Len. Luka memang yang “termuda” di keluarga ini, tapi pikirannya lebih dewasa dari adik-adikku, malah lebih dewasa dariku yang kekanak-kanakan (kalau di depan Meiko aja sih). Mungkin Luka bisa dibilang “sepantaran” sama aku, ya. Aku dan Meiko? Seperti yang sudah aku bilang tadi, aku adiknya Meiko. Cuma, belakangan ini aku merasa hubunganku dengan Meiko seharusnya bukan kakak-adik. Seharusnya kita ini partner. Partner, tapi bukan kakak-adik. Tapi masih keluarga. Hmmh, bingung ya.

Umurku nggak disebutkan secara resmi, tapi secara perawakan dan suara mungkin sekitar 25 tahun. Tua-tua gitu, secara tanggal rilisku sih, aku masih umur 10 tahun, lho. Dari buku pengetahuan pra-remaja yang pernah iseng kupinjam dari Rin, umur segini sudah mulai ada cinta monyet. Keadaan dimana kita mulai merasa deg-degan kalau sudah menyangkut orang yang disuka.

“Mas Kaito, sudah cinta monyet juga?” tanya Rin waktu aku mengembalikan bukunya.

“Eh? Maksudnya, suka-sukaan?” tanyaku, masih kurang paham sama istilah itu.

“Iya itu maksudku. Hayo, sudah ada orang yang disuka ya? Yang jelas bukan aku, apalagi Len, kan? Siapa? Mbak Luka? Mbak Miku? Mbak Meiko?” tanya Rin bertubi-tubi.

Mendengar nama yang terakhir disebut, aku merasa jantungku nyaris loncat.

“A-aduh, Mas lagi nggak enak dada nih, Mas ke kamar dulu ya…” kataku lirih sambil memegang dada.

“Nggak enak dada? Badan, kali…”

***

Jantungku sering loncat nggak cuma kalau dengar namanya Meiko aja, tapi juga kalau melihat Meiko secara… tiba-tiba. Bukan, dia bukan penampakan yang tiba-tiba muncul seperti video kursi goyang yang pernah Len kasih lihat ke aku. Cuma, kalau Meiko lagi “sayang-sayangnya” sama aku, dia bakal peluk aku dari belakang secara tiba-tiba.

Seperti sore ini. Aku lagi asyik-asyiknya menikmati es krim cone rasa vanilla sambil nonton film ketika tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutku.

“KAITOOO~!!” mendengar suara cerianya yang sedikit berat, aku sangat yakin kalau itu Meiko.

“Uhuk!” aku terbatuk kecil. Lagi-lagi jantungku terasa loncat.

Aku melihat sekeliling. Miku, Rin, dan Len lagi main ke Timezone, sedangkan Luka main ke Internet House. Di rumah ini cuma ada aku sama Meiko.

“Mei-chan… tolong lepasin…” lirihku dengan nada paling memelas yang pernah aku bunyikan. Aku nggak mau Meiko dengar dag-dig-dug-ku.

“Hehe, sori sori.” Meiko melepaskan pelukannya, lalu berdiri di hadapanku. Detak jantungku mulai normal, tapi masih deg-degan kalau lihat mukanya secara langsung.

“Jadi, mmm, ada apa?” tanyaku sambil menjilat es krim. Berusaha stay cool.

“Mandi bareng, yuk. Sudah lama, lho.”

“………” aku menghentikan jilatanku.

Mandi? Mandi bareng? Mandi bareng Meiko? Ya ampun, lihat mukanya Meiko aja aku udah deg-degan, gimana kalau lihat yang lainnya? Bakal mati, mungkin. Sebenarnya sih “mandi bareng” yang kita lakukan itu cuma punggung-punggungan, kadang-kadang juga Meiko menggosok atau membilas rambutku dari belakang. Jadi, aku nggak sepenuhnya lihat tubuhnya, sih. Tapi tetap saja, mengingat bagaimana keadaanku yang mulai puber secara pikiran, aku bisa berpikir aneh-aneh.

“Kenapa?” Meiko kelihatan bingung waktu aku menolaknya.

“Mei-chan, aku sudah mandiri. Mandi sendiri. *Slurp*” masih berusaha stay cool, aku menyeruput sisa es krim yang terakhir.

“Hmm… iya juga… kita juga sudah gede, sih… eh, tapi tetap saja, selain mandi, kamu masih manja, sering bergantung sama Mbak Me-i-ko.”

Sudah lama aku nggak mendengar Meiko bilang kalau dirinya itu Mbak. Tunggu, bicara soal gede, secara tanggal rilis, Meiko umur 12 kan? Apa Meiko juga… sudah suka-sukaan? Apa dia juga merasakan deg-degan? Pikiran itu tiba-tiba muncul di pikiranku. Aku langsung mengambil remote dan mematikan TV. Suasana ruang tengah langsung senyap.

“Oh, mandi duluan?”

“………” aku masih duduk, menatap Meiko dalam-dalam, lalu membuka mulut. “Mei-chan, kenapa belakangan ini aku sering deg-degan setiap ketemu kamu?”

“……… eh?” ekspresi Meiko langsung berubah. Kelihatannya dia bingung. “Deg-degan? Seperti kalau lihat hantu, begitu?”

“Hmm, kurang lebih begitu, tapi rasanya… lain.”

“Apa itu… mengganggumu?”

Aku cuma mengangguk. Iya, itu mengganggu. Perasaan ini menggangguku.

“Cuma kalau ketemu aku aja, kan?”

Aku mengangguk lagi. Ya, cuma kalau ketemu Meiko.

Sepertinya pertanyaanku mulai memancing Meiko. Mungkin dia bakal berpikir kalau yang aku rasakan ini cinta. Aku bakal memancing sampai dapat ikan Megalodon kesempatan bertanya “Apa Meiko juga lagi suka sama seseorang?”.

Tapi ternyata jawabannya tidak pernah aku duga dari Vocaloid yang sudah di-upgrade jadi V3 ini. Tentunya kalau sudah upgrade, kita akan lebih improvisasi dalam hal bernyanyi dan berpikir, tapi aku belum tahu kalau itu tidak berlaku ke kepekaan Vocaloid, sampai Meiko menjawab:

“Hmm, mungkin kita harus berjauh-jauhan mulai dari sekarang, aku tahu rasanya berat untuk jauh-jauhan sama adikku yang spesial ini, tapi aku yakin kalau kita jauh-jauhan, mungkin deg-deganmu bakalan reda…” raut muka Meiko terlihat sedih.

Tunggu. Berjauh-jauhan? Pisah? Pisah dari Meiko? A-apa!? Aku nggak bisa membayangkan kalau partnerku pergi jauh dariku! Nanti siapa yang membangunkanku setiap pagi? Siapa yang pijat badanku? Siapa yang traktir aku es tung-tung Pak Juned? Siapa yang menyelimutiku kalau aku ketiduran di depan TV? Siapa yang memarahiku kalau kamarku kayak kapal pecah? Siapa yang bantu aku ngabisin keripik Mang Eci level 100? Siapa yang, siapa yang… kalau bukan dia?

Sepertinya ada salah paham di sini!

“Eh, nggak! Aku masih mau sama Mei-chan! Sama yang lain juga!” jawabku buru-buru. Aduh! Kenapa aku nggak bisa mancing lebih jauh!? Pikir pertanyaan lain, Kaito! Pikir! Oh, tunggu, dia bilang aku adiknya yang spesial kan?

“Jadi?”

Aku langsung berusaha mengubah topik. “Yah, lupakan yang tadi, aku baik-baik saja kok. Aku penasaran kenapa kamu bilang aku adikmu yang spesial.”

Meiko tersenyum. “Pasangan kakak-adik itu paling dekat, itu yang aku tahu. Dan kamu ada sebagai partnerku, seperti adik yang ada untuk kakaknya. Sebagai Vocaloid senior, kita ini yang paling spesial. Semuanya spesial. Tapi menurutku, kamu yang paling spesial buat aku.”

“………”

“Selain itu, nama kita hampir sama, kan? Aku Meiko, kamu Kaito. Nama resmi kita juga ditulis pakai huruf romaji kapital, bukan katakana. Ada I di tengah, ada O di belakang. Nama kita hampir sama seperti si kembar Rin dan Len, ya kan?”

Tapi, mereka kan sudah dari sononya rilis bareng… dan mereka lebih seperti “satu jiwa dalam satu tubuh”…

“Oh, selain itu, belah rambut kita juga sama kan?” Meiko menyibak poninya. Aku meraba-raba belah rambutku. Iya juga, ya. Sama-sama di kiri.

Aku bingung harus ngomong apa lagi. Aku ingin lebih dekat dengan Mei-chan, tapi bukan dalam hubungan kakak-adik begini! Teriakku dalam hati.

“Jadi, begitu…” aku mengangguk-angguk paham, biar dia senang.

“Ya. Makanya kamu spesial buat aku.”

Tiba-tiba, aku punya ide. Aku langsung berdiri menghadap Meiko sambil mengumpulkan segala keberanian walaupun deg-deganku tak kunjung sembuh.

Lalu mencium pipi Meiko.

“H-HEI! KE-KENAPA TIBA-TIBA CIUM PIPI HAH!?” Meiko refleks mengusap pipinya. Tentunya ekspresinya kaget dan marah, tapi aku sempat melihat semburat pink di pipinya. Dia kelihatan manis banget.

“Yaah, apa yang salah dengan adik yang cium pipi kakaknya? Kita kan sudah mandi bareng juga, kayak kakak-adik, ya, kan?” kataku sambil menyunggingkan bibir dengan cool sambil berlalu ke kamar mandi.

“TA-TA-TAPI, NGGAK BEGINI JUGA! AAAAAHHH, HILANGLAH KESUCIAN PIPIKUUUUU!!! KAITOOO………!!” Meiko menyerang punggungku dengan bantal sofa. Aku tetap berlalu ke kamar mandi.

Aku menutup pintu kamar mandi, lalu menarik dan membuang nafasku berkali-kali. Perasaaan yang kutahan dari tadi ini akhirnya meluap juga di kamar mandi. Aku mengaca di cermin kamar mandi. Pipiku kelihatan merona, seperti udang yang direbus Luka untuk membuat sup udang.

Sambil mandi, aku masih memikirkan hubunganku dengan Meiko.

Apa kita bakal terus-terusan seperti kakak-adik?

***

Sejak aku cium pipinya Meiko, seminggu ini Meiko jadi bertingkah sedikit lain. Sedikit. Dia masih bangunin aku tiap pagi, tapi cuma sampai mataku sedikit melek, terus dia keluar kamarku. Padahal biasanya dia bangunin aku sampai aku benar-benar melek. Selain itu, dia jarang keluar kamar, keluar kamar paling ya untuk makan dan tugas suci. Aku sempat dengar sayup-sayup dari kamarnya, dia nyanyi “Inikah namanya cinta, oh inikah cinta…” dan beberapa lagu yang ada kata “cinta” di liriknya.

Meiko yang banyak mengurung diri di kamar bikin sekeluarga ini cemas. Aku coba tanya ke Luka, yang paling dekat sama Meiko.

“Luka, Mei-chan kenapa ya?”

“Hmm, aku sendiri juga nggak tau, apa dia lagi latihan cover lagu?”

“Iya kali,” kataku sambil mengendikkan bahu.

Seminggu setelah Meiko banyak mengurung diri di kamar, dia mulai membuka diri, membuat sekeluarga ini jadi nggak cemas lagi. Tapi tetap saja, dia masih membangunkanku cuma sampai aku setengah sadar.

***

Sewaktu beli es lilin di toko yang agak jauh dari rumah, aku berpapasan dengan Hiyama Kiyoteru, Vocaloid yang berpenampilan seperti guru.

“Eh, Kaito. Sehat?” sapanya dengan muka ramah seperti guru betulan.

“Iya, tapi… tidak juga…” aku teringat bagaimana “penyakit” deg-deganku ini masih belum sembuh juga.

“Begitukah? Mungkin karena terlalu banyak makan es…”

“Hehehe, iya mungkin.”

“Kaito, selama ini aku lihat kamu sering bersama Meiko, bukan begitu?” mendengar nama Meiko, jantungku terasa mau loncat lagi, tapi aku mulai bisa menahan diri.

“Iya, dong, aku dan Meiko kan Vocaloid Jepang paling tuuuuuah.” Jawabku bangga sampai ada “h” di belakangnya.

“Kalian… pacaran?” walaupun dengan senyum ramah begitu, nadanya terdengar seperti orang curiga. Seperti guru yang menangkap basah muridnya yang habis mencontek.

“Nggak,” jawabku datar, tapi dalam hati lumayan sakit juga mengingat aku adalah “adiknya”.

“Oh, baguslah.” Kiyoteru langsung memasang muka yang sangat-sangat lega, seperti guru yang baru selesai mengoreksi pekerjaan esai murid-muridnya.

Eh, kok dia malah senang sih? Jangan-jangan, Kiyoteru juga… punya perasaan yang sama ke Meiko? Lalu apa yang terjadi jika dia duluan yang menyatakan perasaannya ke Meiko? Meiko sudi sama cowok selain aku? Aku bakal ditinggal? Tidak, tidak bisa! Aku ini partnernya sejak jadi prototipe! Kita sudah pernah berpisah sekali, dan kita tidak boleh pisah lagi!

Tidak, aku tidak boleh membiarkan ini terjadi! Meiko adalah milikku!

Dengan kapasitas otakku yang sudah di-upgrade jadi V3 ini, aku dapat ide dan langsung nyeplos, “Tapi aku adiknya Meiko.”

“Oh, bisa jadi mak comblang antara aku sama Meiko, dong? Tolong, ya?” Kiyoteru memasang muka seperti guru yang minta Lays dari muridnya.

“APA!? MAK COMBLANG!? ENAK AJA! GAK BISA!!!” bentakku ke guru jadi-jadian itu. Amukanku cukup membuat Kiyoteru ciut.

“E-eh…”

Raut mukaku kembali ke asal. Tenang Kaito, ingat skenarionya. “Eh, tau nggak? Karena aku adiknya, kita punya hubungan spesial, loh.”

“Hah?”

“Aku sering jalan-jalan bareng dia di taman…” padahal nggak cuma sama Meiko aja, tapi juga sekeluarga Crypton.

“Kakak yang mengajak adiknya jalan-jalan. Biasa.”

“… dibeliin es, apalagi yang Hagen Dazs…” padahal baru sekali saja dia beliin aku es krim yang harganya selangit itu. Biasanya sih dia membelikanku es tung-tung Pak Juned, tapi nggak papa, aku juga suka kok.

“Kakak yang membelikan barang kesukaan adiknya. Biasa.”

“… mandi bareng…” padahal kita jarang mandi bareng.

“Eh… kakak yang mandi sama adiknya, itu… biasa, kan?” Bagus, raut muka Kiyoteru mulai nggak enak.

Seringaiku lebih lebar, “Ehem, aku juga… tidur bareng dia loh.”

“A-AAAPPPPAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!!!!!!!!!?????” Kiyoteru seperti guru yang kena PHK dadakan. Hahaha, mampus.

Sebenarnya, “tidur bareng” yang kumaksud, yah… memang benar sih tidur bersama-sama. Kadang-kadang, tiap malam, aku dan Meiko nonton TV bareng sampai ketiduran di ruang tengah. Bisa dibilang “tidur bareng” kan?

Kemudian lewatlah Meiko dan Luka yang lagi membawa tas belanjaan yang berisi jajan sore. Oh, kelihatannya mereka habis belanja cemilan untuk persediaan siaga bencana.

“Hai, Kiyoteru! Oh, sama Kaito juga toh!” sapa Meiko.

“Hai Kiyoteru,” sapa Luka. “Kenapa, Kiyoteru? Sakit?”

“…………………………” Kiyoteru tetap bergeming. Mulutnya masih menganga. Tatapannya ke arah Meiko, lalu ke arahku. Lalu kabur sambil berteriak, “AAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH……………!!!”

Meiko dan Luka saling berpandangan, bingung. Kemudian kami bertiga berjalan pulang.

“Kaito, dia kenapa?” tanya Meiko.

“Gak papa kok, dia mungkin habis stres gara-gara koreksi esai murid-muridnya,” jawabku asal. Aku membuka bungkus es lilin, lalu memasukkannya ke mulutku.

“Hmm… sepertinya dia sakit, apa kita harus jenguk dia?” tanya Luka cemas.

“Oh, nggak perlu, nanti juga dia sembuh… *slurp* nggak lama kok, paling besoknya ya udah bisa salto sambil kayang.”

Sampailah di rumah tercinta, kami disambut Miku yang asyik makan daun perai sambil membaca koran dengan headline “Terkena Brotherzone, Pria 25 Tahun Mengambang di Sungai”. Oh, tidak. Aku yakin nggak ada sungai di dekat rumah, jadi aku mungkin bisa mengambang di genangan lain seperti air ember.

Meiko dan Luka ke dapur ketika Miku tiba-tiba menghampiriku.

“Oh iya! Mas Kaito, lampu di kamarku mati, tolong benahi, dong!” pinta Miku sambil mengajakku ke kamarnya. Cukup berpijak pakai meja belajarnya Miku, aku cukup tinggi untuk mengambil bola lampu di kamarnya dan menggantinya. Sekarang lampu di kamarnya bisa menyala terang.

“Makasih, Mas Kaito!”

“Sama-sama.” kataku sambil mengerlingkan mata, dan JEPRET! Tiba-tiba Miku sudah pegang hape ke arahku. Benar-benar kecepatan Sonik untuk mengambil hape, belum lagi menyalakan mode kameranya.

“Mas Kaito ganteng banget, untung sempat aku foto, huehuehue…”

Aku cuma cengengesan.

Ketika sudah waktunya makan malam, Rin dan Len tampak masih asyik bermain catur dari tadi sore. Wajah mereka terlihat tegang, keringat mereka menetes, seperti mereka mengangkat kuda dan benteng sungguhan. Mereka berdua terkaget waktu aku mengajak mereka makan.

“Tapi mainnya masih belum selesai…” kata Rin sambil memonyongkan bibirnya.

“Nggak papa, nanti kan bisa dilanjutin lagi, kalo makan kan bisa isi tenaga dan pikiran juga,”

“Tapi Mas Kaito jangan acak-acak caturnya, ya!” kata Len. Aku cuma tersenyum dan mengangguk.

Sambil berjalan ke ruang makan, aku berpikir. Selama ini, aku berusaha menjadi figur kakak yang baik di depan Miku, Rin, dan Len. Walaupun begitu, aku nggak pernah merasa deg-degan di depan Miku dan Rin, apalagi Len. Apa mungkin karena aku memperlakukan mereka seperti bagaimana Meiko memperlakukanku seperti adik, jadi aku nggak punya perasaan apa-apa ke adikku? Berarti, Meiko nggak punya perasaan apa-apa ke aku, dong?

Selama makan malam, aku jadi kepikiran soal itu terus, jadinya aku cuma diam saja. Padahal biasanya aku yang paling ramai waktu makan malam karena kecerobohanku, seperti nggak sengaja menumpahkan air di gelas atau tersandung kaki meja. Aku sempat melihat Meiko memperhatikanku waktu makan, pas mata kita saling bertemu, aku langsung memalingkan mukaku ke arah lain.

Sepertinya aku memang harus menerima kenyataan ini. Aku bakal berusaha melupakan perasaan ini, lalu menerima kenyataan kalau Meiko dan aku memang ditakdirkan bersama sebagai kakak-beradik. Oh produser Yamaha, apa ini yang Anda inginkan?

***

“Makasih, ya, Rin.”

“Sama-sama!”

“Sori baru seminggu selesai, padahal isinya dikit… sibuk sama nyanyi-nyanyi juga, sih!”

“Oalah, pantesan seminggu jarang keluar… oh iya Mbak Meiko, baca bab tentang cinta-cintaan juga kan?”

“Eh, i-iya…”

“Mbak Meiko, sudah cinta monyet juga?”

“Eh? Maksudnya, suka-sukaan?”

“Iya itu maksudku. Hayo, sudah ada orang yang disuka ya? Len? Mas Kaito?”

“A-aduh, Mbak lagi nggak enak dada nih, Mbak ke kamar dulu ya…”

“Nggak enak dada? Badan, kali…”

*** Tamat ***

Waduu, pas masa ujian ini kok sempat-sempatnya dapat ide fanfic begini…

Wkwkwk dasar aku ini emang anak yang gak rajin XD

Hmmh 2 hari langsung kelar nih konsep…

Bahasa, ya? Niatku sih bikin yang slang, tapi malah nyampur sama formal, biasanya kalo aku ngomong di kehidupan sehari-hari ya nyampur gini, wkwk sampe aku temen sekelasku ngatai aku “Pro” kalo Bahasa Indonesia (sarkasme doang kali ya?). Ah, susah banget pisahin dua jenis kata itu, aku bakal benerin lagi nih fanfic kalo sempat…

EDIT 19-12-2016: beberapa bagian udah dibenerin

Oh, soal penggambaran karakter, aku ingin membuat Meiko tipikal onee-san yang deredere dengan sedikit tsun, tapi nggak begitu peka. Bicara soal onee-san, aku jadi inget Suou Amane, tapi Meiko yang ini gak cabe-cabe amat kok. Sedangkan Kaito adalah otouto-kun yang berusaha kece di depan adik-adiknya, bukan tipikal Baka-ito samsat tinjunya Meiko. Jadi, yah, kalau kalian mau Bakaito, fanfic-ku bukan untuk kalian. Tentunya Meiko & Kaito duo yang sering terlihat seperti S&M, lihat saja warna aura mereka, merah dan biru (eh apa hubungannya ya?), tapi aku ingin membuat sisi lain dari mereka.

Tolong komentarnya, ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s