[Fanfic] Gombal Pel

Gombal Pel

Author           : Nectarinia

Genre             : HUMOR, ahem… mungkin ROMENSIT juga… ah, kurang yakin. Yah, intinya ini fanfic gak sedih, kok! Percaya, deh!

Pair                 : OTP kesayangannya Sakura

Warning       : Fanfic tidak mengandung unsur jepun sedikitpun kecuali nama dan istilah. Itu berarti, fanfic ini tidak dianjurkan untuk para VVIBV yang BENAR-BENAR BUTUH “makan gado-gado” untuk kelangsungan hidup mereka.

Summary      : Berkat dukungan Sakura dan buku “Gombalicious” milik Sai, Naruto bertekad untuk menggombali Hinata yang lagi PMS! Tapi… apa bakalan berjalan mulus? / “Yah… gitu deh…” / “HAH!?” / “Oh… tantangan terbesar cowok, ya, ‘cewek PMS’!” / “Bapak kamu-”

***

Naruto galau. Pasalnya, belakangan ini Hinata gampang banget bete. Cewek pemalu nan pendiam macam Hinata gampang bete? Aneh, kan? Pasti ada yang tidak beres dengan gelagat Hinata.

Akhirnya, Naruto membicarakan ini sama Sakura dan Sai, rekan setimnya. Oh, Sasuke? Dia lagi asik mengembara untuk menebus dosa lantaran kebanyakan bikin rusuh dari tengah sampe akhir serial Naruto. Yah, memang banyak yang ngefans Sasuke karena Sasuke selalu terlihat tamfan, tapi tidak ada yang mau hidupnya sama persis kayak dia, kan?

Oke, kembali ke cerita.

“Apa!? Hinata gampang bete?” Sakura gak percaya sama apa yang dia dengar dari mulut Naruto tadi.

“Yah… gitu deh…” Naruto meyakinkan curhatannya tadi.

“Hmm, kenapa, ya…?” gumam Sai sambil tersenyum lebar, selebar fantatnya. Memang, dia adalah orang yang kurang bisa baca suasana. Mungkin dia pikir, kalau Naruto melihatnya tersenyum bisa menyelesaikan masalahnya Naruto. Kenyataannya… gak. Sama. Sekali. Gak.

“Mungkin kamu abis ngapain gitu, yang bikin Hinata bete…” selidik Sakura.

“Iya, mungkin kamu kurang servis dia, atau mungkin punyamu segede kutil, makanya hubungan kalian kurang harmo-”

BLETAK! Muncullah Gunung Everest dari ubun-ubun Sai berkat tonjokan Naruto.

Naruto mulai menceritakan ketika terakhir dia bertemu Hinata, kemarin lusa. Waktu itu, Hinata curhat ke Naruto soal hal paling sensitif buat cewek: berat badan.

***

“Kemarin aku makan sosis bakar jumbo, tadi pagi aku nimbang berat badan, naik 0.101 kilo… hiks, aku nambah lemak, gak tau mau diet kayak gimana…” keluh Hinata.

Eh, sejak kapan ya sosis itu banyak lemaknya? Ah, sudahlah. Hinata memang belakangan ini gampang parno.

Naruto jadi ingat kalau dia pernah baca komik doujin di Piksip, ceritanya Hinata pengen diet lalu Naruto membantu dengan cara icha-icha bareng dia, akhirnya berat badan Hinata turun meskipun “ada yang makin berat”. Naruto-di-dunia-ini langsung membuang jauh-jauh pikiran tentang mengajak Hinata icha-icha. Setidaknya, Naruto dapat ide untuk menghibur Hinata.

“Tenang, gak perlu diet!” hibur Naruto.

“Hah?”

“Aku gak peduli kamu tambah ndut, karena ‘besar itu indah’, dan aku tambah sayang sama kamu…”

Kemudian background di sekitar mereka berdua menjadi bunga-bunga warna pink plus bintang-bintang bersinar. Tapi berhubung ini siang, dan matahari itu termasuk bintang, jadinya matahari aja yang bersinar.

“Eh… makasih Naruto… aku juga… emm… makin sayang sama kamu…” Hinata jadi tersipu berat, mukanya jadi semerah kepiting rebus saos tiram. Bikin Naruto mulai lafar dan ingin makan Hinata.

“Apalagi kalo lemaknya ngumpul di bagian tertentu, aku makin sayang, deh!” tambah Naruto… ke arah yang makin buruk.

“HAH!?”

Background berubah jadi warna hitam kelam.

Hinata tenketsu ke perutnya Naruto.

Naruto tepar.

Sejak saat itu, mereka gak pernah ketemuan lagi.

Kata Shino dan Kiba, Hinata sedang ada misi mengirim surat ke pelosok. Misi tersebut diperkirakan akan tuntas sekitar 2-3 hari lagi.

***

“Gitu deh ceritanya… haduh, padahal biasanya kalo aku becandain, dianya gak ngamuk kayak gitu…”

“Semua cewek kalo dibecandainnya kayak gitu juga bakal ngamuk kayak gitu, kaleeee!!” batin Sakura sambil mengurut-urut jidatnya yang sekarang punya tahi lalat.

Seolah-olah Naruto bisa baca pikiran Sakura, Naruto melanjutkan, “Tapi kayaknya waktu itu Hinata parno banget soal berat badan, sifatnya jadi lain deh, kecuali sifat pemalunya, sih.”

Hening sesaat. Sakura berpikir sambil menyeruput teh yang sudah dihidangkan pelayan warung dari tadi. Naruto, duduk berhadapan dengan Sakura, menyeruput kopi pahit yang sepahit perasaannya. Sai, duduk di sisi kiri Naruto, mengoleskan Balpir ke ubun-ubunnya sebelum dikerubungi para pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Everest.

Tiba-tiba Sakura teringat sesuatu, lalu berseru, “Oh!” lalu dia berbisik, “Mungkin… dia lagi PMS?”

“UHUK!!” Naruto langsung tersedak kopinya. “APA!? PENYAKIT MENULAR SEKSUAL!?”

PLAKK!! Pipi kiri Naruto jadi warna merah menyala-nyala berkat ditampar Sakura. “Hodoh! Kecilin suaramu! Maksudku Pre-Menstrual Syndrome!” seru Sakura masih sambil berbisik. “Bersyukur dong, aku cuma pake sepersepuluh kekuatanku buat nampar kamu! Kalo aku pake seluruhnya, bisa-bisa kamu mencelat ke dunia lain kayak ke dunia Wanpis! Bajak film aja kamu gak becus, apalagi bajak laut!”

“Aduh…” Naruto mengusap-usap pipi kirinya yang kena tampar. “Sori, aku gak tau apa itu premens-premens itu…”

Sakura menghela nafas. Dengan ilmunya sebagai tenaga medis, akhirnya dia menjelaskan bahwa setiap cewek datang bulan terjadi karena ovum sudah lama tidak dibuahi sperma. Biasanya, sebelum datang bulan cewek mengalami emosi yang tidak stabil. yang jelas, Sakura menjelaskan itu semua dengan bahasa yang mudah dipahami cowok. Meladeni cowok sejenis Naruto buat menjelaskan hal serumit ini sama seperti meladeni bocah SD, dan itu membuat Sakura merasa jadi guru IPA kelas 6.

Sai yang kepalanya sudah stabil akhirnya menyahut, “Oh… tantangan terbesar cowok, ya, ‘cewek PMS’!”.

Sai suka membaca buku tentang emosi orang. Lebih tepatnya, suka banget. Sudah dari dulu juga, dia sering baca buku-buku panduan orang pacaran apalagi sejak dirinya pacaran sama Ino. Tentu saja, dia tahu tentang PMS, menstruasi, dan bagaimana bayi terbentuk plus bagaimana cara membuatnya… eh.

“Terus, gimana dong?”

Sai menepuk bahu kiri Naruto. “Tenang, Naruto! Coba rayu dia!”

“Hah, rayu gimana?”

Sai yang dari tadi tersenyum selebar fantatnya, kini senyumnya makin lebar selebar tujuh lautan. Tangan kirinya mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu memperlihatkan barang itu ke Naruto dan Sakura. Ternyata itu adalah buku saku yang berjudul:

GOMBALICIOUS

-For Beginner-

Berisi 1001 profesi BUAPAKMU, eh, “BAPAK KAMU”!

“BUKU PANDUAN GOMBAAAAAAAAAAAL…………!” seru Sai meniru logat Doratenyom yang bersuara om-om.

Mata Naruto berbinar-binar sambil memegang buku itu. “Wuaaaaah, makasih, Saiemon…!” seru Naruto meniru logat Nobitol yang bersuara tante-tante.

“………” Sakura hanya speechless melihat dua insan di depannya yang main sinetron Doratenyom.

“Oh iya, katamu kira-kira besok Hinata bakalan balik ke Konoha, gimana kalo kamu sambut dia di gerbang?” usul Sai.

“Hmm, menyambut Hinata? Aku belum pernah menyambut dia, tapi… sepertinya boleh juga… tapi aku takut Hinata masih marah sama aku…”

“Jangan kuatir, nanti aku sama Sai awasi kamu buat antisipasi, lagian aku juga mau lihat apa sarannya Sai soal gombal itu manjur atau nggak,” sepertinya Sakura masih kurang yakin soal saran Sai. Tapi karena selama ini Sai sering membaca buku sejenis itu, jadinya Sakura percaya… walau gak sepenuhnya.

“Manjur, kok, aku udah pernah coba ini ke Ino. Kemarin aku ke Toko Bunga Yamanaka lalu aku tanya ke dia yang lagi nyiram bunga, ‘Ino! Bapak kamu petani bunga, ya?’ lalu dia jawab, ‘Kok tau?’, aku bales, ‘Karena kamu membuat hatiku berbunga-bunga…’”

“Cieeeeh, so sweeeeet…!” goda Naruto dan Sakura. Sai tersenyum simpul.

Sai gak cerita kalau sesudah itu Ino menyemprot muka Sai dengan pestisida, karena sesudah Sai menggombali Ino, Ino teringat profesi almarhum bapaknya adalah petugas intel di Konoha.

***

Keesokan harinya, seperti yang sudah diprediksi Kiba dan Shino, Hinata kembali ke Desa Konoha. Dia disambut Izumo dan Kotetsu, duo sejoli penjaga gerbang Desa Konoha yang sama-sama jones sampai sekarang, saking jonesnya sampai para fujoshi memasang-masangkan mereka berdua satu sama lain.

“Selamat datang, Hinata!” sapa mereka berdua serempak. Hinata kaget, lalu dia sweatdrop sambil tersenyum.

“La-lama tak jumpa,” malah itu yang diucapkan Hinata.

“Sepertinya kamu sudah lelah karena berhari-hari misi, gimana kalo kamu kita pijet?” lagi-lagi Izumo dan Kotetsu mengucapkannya serempak. Kagetnya Hinata makin menjadi.

Sementara itu, di balik semak-semak dekat gerbang Konoha…

“Apa!? Pijet!? Dasar duo jones kurang asem!” sungut Naruto dalam hati. Sakura dan Sai mendingin-dinginkan Naruto yang panas. Sakura menghibur Naruto dengan kata-kata bijaknya. Sai menaruh es batu di kepala Naruto yang langsung mencair dalam sekejap saking panasnya kepala dan hati Naruto.

“Woles, Naruto… cewek setia kayak Hinata mana mungkin langsung terima?” bisik Sakura.

PLAK! PLAK! Dan benar saja, Hinata langsung menampar mereka berdua sambil berseru, “Terima kasih, tapi maaf saja, aku mau laporan ke Hokage dulu!” sambil berjalan cepat-cepat menjauhi mereka berdua yang terkapar.

“Alamak, sori, Hinata… kita cuma becanda…” lagi-lagi (dan lagi) mereka meringis serempak.

Naruto mulai keluar dari semak-semak. Dia mengembalikan buku panduan gombal ke Sai.

“Inget, Naruto! Buat Hinata klepek-klepek dengan gombalanmu!” kata Sakura.

“Yoi, makasih ya, kalian berdua!”

“Awas, ya, kalo sampe gagal!” Sakura memperlihatkan kepalan tangan kanannya di hadapan Naruto.

“Iya, iya!” kata Naruto sambil berlari meninggalkan mereka, lalu mengejar Hinata.

SREK! SREK! SREK! Perlahan tapi pasti, Sai dan Sakura menggerakkan semak-semak tempat mereka berlindung, mengekori Naruto.

Hinata yang mulai berjalan pelan dapat disusul Naruto.

“Hinata!” sapa Naruto. Hinata menoleh ke belakang. Dilihatnya Naruto sang cogan berlari ke arahnya.

“Eh, Naruto!” sahut Hinata sambil tersenyum.

“Hinata, lama gak ketemu ya!” Naruto mulai berbasa-basi saking basinya sampai dikerubungi lalat. Padahal Naruto sudah tau kalo Hinata ada misi.

“Ah, i-iya… aku ada misi…” Hinata masih malu-malu, mungkin karena mereka baru dua minggu pacaran.

“Hinata, sori ya yang kemaren-kemaren itu.” Kata Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, padahal sudah jadi sarang kutu.

“Ah, gak papa, lagian misi ini bikin aku lebih langsing deh, kayaknya sih…” Hinata berkata begiu sambil menunduk, melihat perutnya yang dililit korset, eh, maksudnya sabuk.

“Waduh, kalo kamu langsing berarti bagian itu juga— eh…” tentu saja Naruto mengucapkan itu dalam hati.

Mereka berdua terus berjalan. Naruto bilang dia mau menemani Hinata ke kantor Hokage Keenam, Kakashi. Tentu saja Hinata makin senang karena bisa berjalan sama sang cogan. Sakura yang di balik semak-semak asik fangirling-an melihat mereka berdua, karena Sakura adalah “HEUG NH SHIPPER”. Bicara soal fangirl, Naruto yang sampai sekarang punya banyak fangirl (meskipun mereka tahu Naruto sudah punya pacar) berjalan melewati beberapa fangirl Naruto di pinggir jalan.

“Eh, itu kan Kak Naruto!”

“Iya, lagi jalan sama pacarnya! Cewek Hyuuga itu!”

“Aduh, kenapa dia? Kenapa gak sama aku aja?”

Sementara Naruto memikirkan gombalan untuk Hinata, Hinata memasang tatapan deathglare plus byakugan ke arah para fangirl. Para fangirl itu akhirnya mingkem.

***

Karena dari tadi mereka berjalan sambil diam terus, akhirnya Naruto membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.

“Oh, ya, Hinata…” mata Naruto melirik ke atas, alisnya sedikit berkerut, terlihat mau mengatakan sesuatu yang terlihat penting tapi tidak begitu penting.

“Ya?” Hinata yang dari tadi melihat ke depan, melirik ke Naruto.

“Bapak kamu-”

PLOK!! Tiba-tiba, kedua tangan Hinata langsung menepuk menepuk dan mencengkeram pipi Naruto, membuat Naruto tidak bisa berkata apa-apa karena bibirnya terlalu monyong.

“BUKAN, NARUTO! Bapakku bukan guru, dosen, dokter, suster, astronot, pilot, supir, polisi, satpol PP, satpam, tentara, penyanyi, pelukis, aktor, penari, pedagang, presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, walikota, bupati, lurah, kades, ketua RW, ketua RT, OP warnet, kuli, pengamen, pemulung, apalagi maling! Bapakku itu ketua Klan Hyuuga! Jangan samakan dengan profesi lainnya! Hyuuga itu klan paling Te-O-Pe seantero Konoha!!!”

Entah bagaimana, Hinata sudah tahu kalau Naruto akan menggombalinya dengan gombalan “bapak kamu”. Mungkin ini karena mereka bisa mengetahui perasaan satu sama lain hanya dengan tatapan mata seperti waktu Perang Dunia Shinobi 4, atau mungkin kekuatan dari dalam seperti di Sponsbob. Selain itu, ketika Hinata PMS bisa-bisanya dia jadi menyombongkan klan Hyuuga, benar-benar “awakening mode”-nya Hinata, ya…

“Amsyong! Padahal aku tadi mau ngomong, ‘bapak kamu maling, ya?’, aduh, gimana nih? Masak, profesi lainnya juga gak bisa? Aduh, mana Hinata jadi serem gitu…” batin Naruto sambil berkeringat dingin. Keringatnya mulai masuk ke bibirnya yang monyong.

Naruto sama sekali tidak menyangka kalau rekasi Hinata akan begitu. Perlu diingat bahwa Naruto punya jurus pamungkasnya yang bernama “Ceramah no Jutsu”, jurus dimana penggunanya mengeluarkan kata-kata bijak yang menyebabkan lawan (bicara) menjadi luluh dan klepek-klepek. Padahal, biasanya kalau Naruto mengeluarkan kata-kata bijaknya ke Hinata, Hinata akan klepek-klepek. Tapi karena ini bukan kata-kata bijak, melainkan gombalan yang sangat mainstream, tentu saja reaksi Hinata berbeda.

Sementara itu, Sai dan Sakura yang sedang mengintip dari balik semak-semak juga kaget dengan rekaksi Hinata yang begitu.

“Waduh, Sai! Ada gombalan yang isinya ‘bapak kamu ketua klan’ gak?” bisik Sakura, agak panik.

“Gak ada, kayaknya itu profesi ke-1002…” bisik Sai sambil membuka-buka buku panduan gombalnya. “Aku malah gak yakin apa ketua klan itu termasuk profesi…”

“Maafkan aku Naruto, semua ini tergantung sama kamu… kamu emang bego dan gak peka, tapi aku tau kamu gak sebego itu, kamu pasti bisa, pasti bisa, Naaaaaaaaaar…………” batin Sakura sambil terus-terusan menatap Naruto, berharap kata-katanya bisa disalurkan ke Naruto melalui telepati.

Kembali ke nasib Naruto yang kini di ujung tandu(k).

“… huh.” Hinata melepaskan cengkeramannya. Ekspresinya terlihat sangat kesal. Akhirnya dia berjalan meninggalkan Naruto.

Naruto panik, bingung mau bicara apa lagi. Tapi, pertama-tama, Naruto membenahi bibirnya yang nyaris monyong permanen.

“Aduh, kalo ‘bapak kamu maling’ itu kan ‘karena kamu sudah mencuri hatiku’, kalo ‘bapak kamu dokter’ itu kan ‘karena kamu sudah mengobati hatiku yang sakit kangen’, kalo ‘bapak kamu pelukis’ itu kan ‘karena kamu membuat hatiku berwarna-warni’, kalo ‘bapak kamu ketua klan’, berarti… hmm… sesuatu yang nyambung sama namanya… AHA!”

Naruto langsung mengejar Hinata.

“Hinata, sori! Maksudku tadi, aku mau bilang, ‘Bapak kamu ketua klan, ya?’, begitu!” kata Naruto sambil cengengesan.

Hinata menghentikan langkahnya, lalu menatap Naruto dengan ragu.

“Eh, emang ada ya gombalan kayak gitu? Kurang yakin…” batin Hinata. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menanggapi gombalan itu.

“Iya, kenapa?” tanya Hinata dengan nada yang setengah imut setengah dongkol.

“Karena…”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“… Bapak kamu tua banget, sih!”

.

.

.

.

.

.

.

.

Pak Hiashi tersedak teh hijau yang dihidangkan meido Hyuuga, lalu beliau meraba-raba wajahnya yang dirasa mulai banyak keriput, padahal tidak begitu banyak. Yah, paling-paling ada sekitar lima… belas?

.

.

.

.

.

.

.

.

“HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!!!!!!!!11111!!!111!!!!!!!111satu111satu1!!!!!!?????????????????/////?/???”

Hinata membuka mata dan mulutnya lebar-lebar, sampai dia tidak sadar ada lalat masuk ke mulutnya lalu keluar lagi lewat lubang hidungnya yang mini. Si lalat ngos-ngosan. Dia kapok masuk ke mulut manusia.

Begitu juga dengan Sai dan Sakura, mereka facepalm berjamaah. Menutupi wajah mereka dengan daun pohon palem karena itulah facepalm yang sesungguhnya.

Hinata menundukkan kepalanya, lalu keluar aura warna ungu tua di sekitar Hinata. Hinata “dark mode”? Sepertinya iya.

“DASAR NARUTO PAYAH, SEENAKNYA SAJA MENGHINA BAPAKKU YANG MASIH KELIATAN 30 TAHUN! RASAKAN INI! JUUHO SOSHIKEN!!!”

Keluarlah singa-singaan berwarna biru keunguan di kedua tangan Hinata.

“AAAAAAAAAAAHHHHHH, AMPUN, HINATAAAAA………………………!!!!!”

BUAAAAAAKKKKKKK!!!!!

Tapi nasi sudah menjadi bubur, bubur sudah menjadi super, lebih baik cepat makan buburnya sebelum dimakan kucing. Naruto sudah terkapar berkat satu pukulan singa-singaan milik Hinata. Setelah puas, Hinata langsung meninggalkan Naruto.

“GRRRRRH! Dasar Naruto, ngurusin cewek PMS aja gak becus! Awas, ya, nanti!” Sakura menyiapkan sepasang sarung tinju warna pink bertuliskan “SHANNARO”, entah dari mana asalnya sarung tinju itu.

Melihat Sakura yang juga sudah memasuki “dark mode”, Sai langsung lari terbirit-birit karena tidak mau terkena imbasnya. Dengan pengalamannya sebagai anggota Tim 7, dia tahu kalau Sakura marah pasti Sakura akan meninju tanah sampai retak. Tentu saja Sai tidak mau mati konyol gara-gara kena longsor yang dibuat Sakura.

Memang malang sekali nasib Naruto ini… yang sabar, ya!

*** ABIS, DAH! ***

Hahay, ini cuma fanfic yang iseng aku bikin ditengah kesibukan tugas Bahasa Indonesia bikin cerpen sama rangkaiannya… niatnya sih bikin cerpen, eh, malah keasyikan bikin fanfic! Anak macam apa aku ini… XD

Aslinya sih ini berdasarkan komikku yang masih belum selesai, aku bikin komik dan fanfic secara balapan… yep, malah fanfic ini yang masuk ke garis finish duluan. Emang, sih, versi komik jauh lebih singkat daripada versi fanfic ini soalnya versi komik itu cuma inti cerita, tapi bikin gambarnya lebih susah, jadinya… gini, deh! 😛

Enaknya fanfic ini aku publish di FFn atau nggak, ya? :/

Advertisements

5 thoughts on “[Fanfic] Gombal Pel

  1. Hai nectarinia, dr dulu udah ngefans banget sama karya2 kamu di 1cak dan pas aku tau kamu suka NH tuh rasanya wow sekali! Karna aku rasa jokes kamu bener-bener ngeklop sama selera humor aku, Fanfic ini parah bikin sakit tenggorokan karna ketawa, tengkyuu yaa! Terus semangat berkarya yaaa 😉

    • Makasih~
      Ah, akhirnya ada wancaker laen yang ngefans NH! AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH AKU DAPET TEMEN LAGI YEY XD
      makasih kritiknya ye! Kebetulan lagi bikin versi komik, uhuk, tinggal 1 ¾ halaman lagi dan semua akan beres 🙂

  2. Pingback: Butuh Asupan Pairing? | Nectarinia's Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s